Sabtu, 22 November 2014

Co-Working Space adalah ...

Kalau dilihat dari segi bahasa, Co-working space sendiri bisa diartikan sebagai tempat berkumpulnya para pekerja yang aktif menggunakan teknologi digital dalam kesehariannya. Mereka yang aktif tidak menggunakan kantor ataupun rumah sebagai tempat kerjanya. Bisa dibilang Co-working space adalah jalan tengah antara keinginan untuk bekerja dari rumah dan kewajiban bekerja di kantor.

Co-Working space di luar negeri.

Seperti kata Brad Neuberg, pria yang kerap disebut sebagai pelopor coworking space: "Seakan-akan pilihannya adalah memiliki pekerjaan, yang akan memberi saya struktur dan komunitas, atau menjadi pekerja lepas dan memiliki kebebasan dan kemerdekaan. Kenapa tidak dua-duanya?" ujar Neuberg dalam sebuah tulisan di The New York Times.

Neuberg telah membuka jalan untuk coworking space pada 2005. Saat ini, sekitar 8 tahun kemudian, coworking space tumbuh subur di banyak negara.

Di Eropa, misalnya, Inggris sering disebut sebagai negara yang paling getol mengadopsi coworking space. Beberapa coworking space di Inggris pun didukung oleh pemerintah setempat, selain ada juga yang didukung oleh perusahaan seperti Google.

Coworking space di seluruh dunia tidak memiliki format yang seragam. Ada yang murni tempat bekerja, ada yang sekaligus bisa digunakan untuk tinggal atau bermalam, ada juga yang memiliki fasilitas mentoring dengan dukungan dari korporasi besar.

Menurut Didi, di Inggris coworking space banyak tumbuh di seputar industri kreatif. Sedangkan di Finlandia, tradisi manufaktur yang kuat menghadirkan coworking space yang terintegrasi dengan bengkel.

Namun, satu semangat yang sama dari coworking space adalah kumpul-kumpul sambil kerja. Dan dari kumpul-kumpul itu, banyak hal bisa terjadi.  


Co-working space di Indonesia.

Tak hanya di luar negeri, kini di Indonesia pun Co-working space sedang mengalami pertumbuhan yang positif. Banyak inkubator dan co-working space yang muncul di berbagai tempat di kota besar, dan semuanya bertujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan startup. Beberapa tempat disediakan secara gratis dan beberapa lagi berbayar. Jika Anda mencari tempat yang bagus untuk bekerja, berinteraksi, berkolaborasi, belajar, dan mengembangkan startup Anda di Indonesia, berikut adalah sepuluh co-working space yang bisa jadi pilihan Anda.

1. Bandung Digital Valley | Bandung
BDV (Bandung Digital Valley adalah co-working space gratis yang diluncurkan oleh Telkom di Bandung pada bulan Desember tahun 2011 lalu. Berlokasi di R&D center milik Telkom, tempat ini memiliki luas 1.200 meter persegi, dan Telkom mengijinkan orang-orang menggunakannya sebagai co-working space, ruangan gadget, ruangan rapat, dan ruangan inkubasi. BDV dibangun untuk mendukung dan memfasilitasi perusahaan atau produk milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Telkom mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi sebesar Rp 50 miliar di BDV untuk jangka waktu tiga tahun ke depan. Co-working space ini sendiri bisa menampung 100 orang. Untuk bisa menempati BDV, Anda hanya perlu mendaftarkan diri di situsnya.

2. Code Margonda | Depok
CodeMargonda adalah co-working space pertama di kota Depok dan didirikan oleh Tommy Herdiansyah dan Febrian Shandy Rifano. Tempat ini bertujuan untuk memfasilitasi interaksi dan kolaborasi antara startup lokal yang ada di wilayahnya. Tempat ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk 35 orang, dan juga memiliki ruang rapat, dan ruang diskusi. Tim atau individu yang non-profit bisa menggunakan tempat ini secara gratis. Tapi mereka yang mencari profit dari usahanya harus membayar. Biaya sewanya adalah Rp 15.000 per empat jam untuk member dan Rp 25.000 untuk non-member. Biaya sewa per bulannya sebesar Rp 660.000, dan biaya sewa per tahunnya sebesar Rp 7,9 juta. Selain menyediakan tempat, CodeMargonda juga sering mengadakan event gratis atau berbayar seperti workshop dan diskusi.

3. COMMA | Jakarta
COMMA (Collaboration Matters) mengaku sebagai co-working space pertama di kota Jakarta, dan didirikan oleh tujuh nama besar di dunia entrepreneur Indonesia seperti Rene Suhardono (career coach dan founder ImpactFactory), Yoris Sebastian (founder konsultan kreatif OMG), dan Dondi Hananto (founder wujudkanID) di bulan November 2012 lalu. COMMA ingin menumbuhkan lingkungan entrepreneur di Indonesia dengan memfasilitasi orang-orang dari berbagai latar belakang agar mereka bisa berinteraksi dan berkolaborasi. Tidak seperti co-working space lainnya, yang secara spesifik ditujukan untuk startup, technopreneur, atau developer, COMMA menerima orang dengan latar belakang yang berbeda yang tertarik dan ingin bergabung di industri teknologi. COMMA bisa menampung 40 orang, punya ruang rapat, dan bahkan punya lounge untuk bermain Playstation dan tenis meja. Tiap kursi atau tempatnya bisa digunakan dengan membayar Rp 50.000 per dua jam. Tapi jika Anda ingin tinggal lebih lama, Anda bisa mendaftar sebagai anggota dengan membayar Rp 3 juta per bulan.

4. Ciputra GEPI Incubator | Jakarta
 Ciputra GEPI Incubator (CGI) diprakarsai oleh Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI) dan perusahaan properti Ciputra. Space komunitas startup ini ingin menumbuhkan lingkungan entrepreneur di Indonesia dengan menyediakan space fisik di Jakarta. Tempat ini memiliki luas sebesar 520 meter persegi dan berfokus pada event, meetup, networking, dan pelatihan. Tim CGI berencana memiliki paling tidak satu event tiap minggunya dan akan melakukan yang terbaik untuk tetap gratis dan terbuka.

5. Freeware | Jakarta
Freeware adalah co-working space gratis di Jakarta. Perusahaan VC/investor, Grupara, awal tahun ini bekerja sama dengan perusahaan energi Medco Energi untuk membantu entrepreneur yang masih berada dalam fase awal untuk mengembangkan perusahaannya dengan menyediakan co-working space yang nyaman dan pembentukan komunitas. Freeware tidak hanya terbatas untuk perusahaan teknologi, tapi segala bentuk bisnis Service Management Enterprise (SME) seperti fashion, jasa, dan media. Freeware juga mengadakan sesi sharing rutin yang bertujuan untuk membahas topik tertentu tiap minggunya, dan dibawakan oleh pembicara yang terkenal dari industri startup. Freeware sudah cukup penuh saat ini dengan 14 startup yang menggunakan layanannya di tahun ini.

6. HackerSpaceBDG | Bandung
HackerSpaceBDG adalah co-working space di Bandung yang didirikan oleh Reza Prabowo dan Yohan Totting. Mereka ingin memfasilitasi startup, komunitas, atau individu; sebuah tempat bekerja dan berkolaborasi. Tempat ini menawarkan delapan space dengan akses internet secara gratis, tetapi jika ingin bekerja secara permanent, dapat mendonasikan uang sebesar Rp 500.000 per bulan. Tempat ini juga terkadang digunakan untuk event startup.

7. HackerSpaceYK | Yogyakarta
HackerSpaceYK adalah co-working space di Yogyakarta yang didirikan oleh Reza Prabowo dan Yohan Totting. Seperti halnya HackerSpaceBDG, tempat ini memfasilitasi tim atau individu dari industri kreatif seperti startup, desainer, dan penulis. Tempat ini memiliki 12 space dan bisa digunakan dengan membayar Rp 300.000 per bulannya. Luas HackerSpaceYK adalah sekitar 30 meter persegi.

8. Jogja Digital Valley | Yogyakarta
 JDV (Jogja Digital Valley) adalah co-working space gratis kedua yang dibangun oleh Telkom, dan didirikan di kota Yogyakarta pada bulan Agustus lalu. Konsep dan layanan yang diberikan JDV sama dengan BDV, dan sama-sama bertujuan untuk mendorong pertumbuhan perusahaan milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Tempat ini memiliki luas 800 meter persegi, ruangan gadget, ruangan rapat, dan ruang inkubasi. Co-working space ini bisa menampung sampai 50 orang. Telkom menginvestasikan Rp 10 miliar selama tiga tahun ke depan untuk JDV. Seperti halnya BDV, untuk menggunakan tempat ini, Anda hanya perlumendaftar di situsnya. Setelah Bandung dan Yogyakarta, Telkom juga berencana membangun Digital Valley di kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan Bali. 

9. Hubud | Bali
Hubud adalah co-working space pertama di Ubud yang didirikan oleh tiga ekspatriat bernama Peter Wall, John Alderson, dan Steve Munroe. Tempat ini didesain dengan konsep tempat terbuka yang dikelilingi taman dan dilengkapi dengan fasilitas seperti internet yang cepat, printer, scanner, mesin foto copy, dan ruang seminar. Bagi yang ingin bekerja di Hubud, diwajibkan untuk mendaftar sebagai member dengan biaya yang berbeda-beda, seperti Rp 500.000 untuk 25 jam kerja per bulan atau Rp 2,5 juta untuk jam kerja tak terbatas selama satu bulan. Hubud memiliki operating hour selama 24 jam setiap harinya, sehingga member bisa datang kapan saja untuk bekerja. Co-working space ini juga sering mengadakan acara gratis seperti meetup atau diskusi dengan berkolaborasi dengan berbagai komunitas yang bisa diikuti oleh member.

10. Pusat Kreatif Bandung | Bandung
 Pusat Kreatif Bandung yang didirikan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI ini merupakan co-working space yang juga berperan sebagai pusat inkubasi. Tempat ini diresmikan pada bulan Mei lalu dan terbuka untuk umum, dengan syarat harus mendaftar sebagai member terlebih dahulu. Fasilitas yang ditawarkan antara lain ruang kerja, ruang seminar, 2 ruang meeting, internet, dan lab dari Intel.

11. Lineup Hub | Bali
 Lineup Hub merupakan sebuah co-working space yang terletak di Seminyak. Co-working space yang terbilang baru yakni dibuka sekitar bulan Mei tahun ini mempunyai dua lantai dengan berbagai fasilitas seperti wi-fi, ruang seminar, coffee brewer, dan PlayStation 4 yang bisa dimainkan di waktu senggang. Kisaran harga untuk member di Lineup Hub berbeda-beda, mulai dari Rp 1 juta per bulan untuk paket Basic (yakni hanya bisa mendapatkan akses 5 hari kerja dalam sebulan, serta diskon jika ingin menambah jumlah hari), hingga Rp 2,9 juta untuk paket Full-Time (mendapat akses tak terbatas selama sebulan, prioritas lebih menggunakan ruang seminar, menggunakan loker, dan lainnya). Bagi Anda yang tertarik mencoba, Anda juga bisa menggunakan paket harian yakni sebesar Rp 250.000 untuk satu hari. Lineup Hub beroperasi mulai dari jam 10 pagi hingga 1 malam dan buka pada hari Senin-Sabtu.

12. Startup Getaway | Bali
Berbeda dari yang lainnya, Startup Gateway yang didirikan oleh Liv.it (dulunya Contenga), sebuah komunitas startup teknologi, tidak hanya menawarkan co-working space, tapi juga menawarkan konsep lain yakni co-living space. Tidak hanya bekerja, Anda juga bisa tinggal di Startup Gateway. Startup Gateway menyediakan enam power house (semacam villa) berbeda dengan berbagai fasilitas di dalamnya. Selain co-working space, Anda bisa menggunakan fasilitas lain seperti dapur, kolam renang, gazebo, kamar tidur, perpustakaan, cafe, dan fasilitas lainnya. Asiknya, semua kebutuhan harian Anda dipenuhi oleh Startup Getaway mulai dari makan hingga laundry. Keenam power house tersebut terletak berdekatan dalam satu lokasi yang dikelilingi oleh panorama hamparan padi di sawah yang asri dan terkoneksi dengan wi-fi yang stabil. (Baca juga: 7 startup menarik di Tech in Asia Meetup Bali) Pelanggan Startup Getaway biasanya datang dengan satu tim startup yang menyewa satu power house dalam jangka waktu tertentu. Namun, Anda juga bisa bekerja di sini secara perorangan dengan jangka waktu yang bisa Anda tentukan sendiri. Biaya sewa di Startup Getaway tergantung pada durasi waktu, seperti harian, mingguan, atau bulanan, serta tergantung pada jenis kamar tidur yang di sewa. Harga termurah di Startup Getaway dimulai dari USD 50 (atau sekitar Rp 590.000) per hari.

13. The Sanur Space | Bali
The Sanur Space (TSS) adalah sebuah co-working space yang didirikan oleh PT EMIK yang merupakan cabang Emic Research di Indonesia, sebuah perusahaan riset dan konsultasi asal Belanda. TSS bertujuan untuk menyediakan co-working space yang fleksibel bagi para profesional lokal maupun internasional, serta mengadakan berbagai acara khususnya dalam bidang sosial. TSS menyediakan empat ruang bagi pelanggan, yakni main room, white room, dapur, serta ruang terbuka berupa taman. Main room biasanya digunakan untuk tempat bekerja yang dilengkapi dengan fasilitas seperti printer, scanner, mesin foto copy, dan white board. Sementara white room biasanya digunakan sebagai ruang untuk presentasi, seminar, ataupun rapat. Kisaran harga sewa di TSS yakni sekitar USD 15 (sekitar Rp 178.000) per hari. TSS beroperasi mulai dari jam 6 pagi hingga 10 malam dan buka setiap hari kecuali hari Minggu.

14. WAVE Bali | Bali
WAVE merupakan sebuah co-working space yang didirikan oleh Ryuta Saito dan Noritaka Kobayashi pada Februari 2014. Mereka ingin memfasilitasi inovator, startup, komunitas, atau individu; sebuah tempat bekerja dan berkolaborasi. Co-working space yang terletak di Kuta ini menyediakan wi-fi, printer, scanner, mesin foto copy, serta air mineral gratis bagi para member. WAVE juga bisa dijadikan tempat untuk mengadakan berbagai acara. Di antara semua co-working space di daftar ini, WAVE termasuk yang paling murah. Member bisa memilih paket mingguan yakni sebesar Rp 150.000, paket 2 mingguan Rp 300.000, dan paket bulanan sebesar Rp 500.000. Bagi Anda yang hanya ingin mampir bekerja di WAVE sehari atau dua hari, Anda tetap bisa menggunakan fasilitas di WAVE dengan harga yang bisa dinegosiasikan. WAVE beroperasi mulai dari jam 10 pagi hingga 6 malam.

Itulah sekilas tentang Co-working space. Berniat mencoba?


sumber :
http://tekno.kompas.com/
http://id.techinasia.com/
. Bandu.ng Digital Valley | Bandung BDV (Bandung Digital Valley adalah co-working space gratis yang diluncurkan oleh Telkom di Bandung pada bulan Desember tahun 2011 lalu. Berlokasi di R&D center milik Telkom, tempat ini memiliki luas 1.200 meter persegi, dan Telkom mengijinkan orang-orang menggunakannya sebagai co-working space, ruangan gadget, ruangan rapat, dan ruangan inkubasi. BDV dibangun untuk mendukung dan memfasilitasi perusahaan atau produk milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Telkom mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi sebesar Rp 50 miliar di BDV untuk jangka waktu tiga tahun ke depan. Co-working space ini sendiri bisa menampung 100 orang. Untuk bisa menempati BDV, Anda hanya perlu mendaftarkan diri di situsnya.

Baca juga: 14 co-working space keren di Indonesia http://id.techinasia.com/8-coworking-space-keren-di-indonesia/
ndung Digital Valley | Bandung BDV (Bandung Digital Valley adalah co-working space gratis yang diluncurkan oleh Telkom di Bandung pada bulan Desember tahun 2011 lalu. Berlokasi di R&D center milik Telkom, tempat ini memiliki luas 1.200 meter persegi, dan Telkom mengijinkan orang-orang menggunakannya sebagai co-working space, ruangan gadget, ruangan rapat, dan ruangan inkubasi. BDV dibangun untuk mendukung dan memfasilitasi perusahaan atau produk milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Telkom mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi sebesar Rp 50 miliar di BDV untuk jangka waktu tiga tahun ke depan. Co-working space ini sendiri bisa menampung 100 orang. Untuk bisa menempati BDV, Anda hanya perlu mendaftarkan diri di situsnya.

Baca juga: 14 co-working space keren di Indonesia http://id.techinasia.com/8-coworking-space-keren-di-indonesia/
1. Bandung Digital Valley | Bandung BDV (Bandung Digital Valley adalah co-working space gratis yang diluncurkan oleh Telkom di Bandung pada bulan Desember tahun 2011 lalu. Berlokasi di R&D center milik Telkom, tempat ini memiliki luas 1.200 meter persegi, dan Telkom mengijinkan orang-orang menggunakannya sebagai co-working space, ruangan gadget, ruangan rapat, dan ruangan inkubasi. BDV dibangun untuk mendukung dan memfasilitasi perusahaan atau produk milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Telkom mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi sebesar Rp 50 miliar di BDV untuk jangka waktu tiga tahun ke depan. Co-working space ini sendiri bisa menampung 100 orang. Untuk bisa menempati BDV, Anda hanya perlu mendaftarkan diri di situsnya.

Baca juga: 14 co-working space keren di Indonesia http://id.techinasia.com/8-coworking-space-keren-di-indonesia/

Baca juga: 14 co-working space keren di Indonesia http://id.techinasia.com/8-coworking-space-keren-di-indonesia/
Dunia startup Indonesia saat ini sedang mengalami pertumbuhan positif. Banyak inkubator dan co-working space yang muncul di berbagai tempat di kota besar, dan semuanya bertujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan startup. Beberapa tempat disediakan secara gratis dan beberapa lagi berbayar. Jika Anda mencari tempat yang bagus untuk bekerja, berinteraksi, berkolaborasi, belajar, dan mengembangkan startup Anda di Indonesia, berikut adalah sepuluh co-working space yang bisa jadi pilihan Anda:

Baca juga: 14 co-working space keren di Indonesia http://id.techinasia.com/8-coworking-space-keren-di-indonesia/
Dunia startup Indonesia saat ini sedang mengalami pertumbuhan positif. Banyak inkubator dan co-working space yang muncul di berbagai tempat di kota besar, dan semuanya bertujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan startup. Beberapa tempat disediakan secara gratis dan beberapa lagi berbayar. Jika Anda mencari tempat yang bagus untuk bekerja, berinteraksi, berkolaborasi, belajar, dan mengembangkan startup Anda di Indonesia, berikut adalah sepuluh co-working space yang bisa jadi pilihan Anda: 1. Bandung Digital Valley | Bandung BDV (Bandung Digital Valley adalah co-working space gratis yang diluncurkan oleh Telkom di Bandung pada bulan Desember tahun 2011 lalu. Berlokasi di R&D center milik Telkom, tempat ini memiliki luas 1.200 meter persegi, dan Telkom mengijinkan orang-orang menggunakannya sebagai co-working space, ruangan gadget, ruangan rapat, dan ruangan inkubasi. BDV dibangun untuk mendukung dan memfasilitasi perusahaan atau produk milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Telkom mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi sebesar Rp 50 miliar di BDV untuk jangka waktu tiga tahun ke depan. Co-working space ini sendiri bisa menampung 100 orang. Untuk bisa menempati BDV, Anda hanya perlu mendaftarkan diri di situsnya. 2. CodeMargonda | Depok CodeMargonda adalah co-working space pertama di kota Depok dan didirikan oleh Tommy Herdiansyah dan Febrian Shandy Rifano. Tempat ini bertujuan untuk memfasilitasi interaksi dan kolaborasi antara startup lokal yang ada di wilayahnya. Tempat ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk 35 orang, dan juga memiliki ruang rapat, dan ruang diskusi. Tim atau individu yang non-profit bisa menggunakan tempat ini secara gratis. Tapi mereka yang mencari profit dari usahanya harus membayar. Biaya sewanya adalah Rp 15.000 per empat jam untuk member dan Rp 25.000 untuk non-member. Biaya sewa per bulannya sebesar Rp 660.000, dan biaya sewa per tahunnya sebesar Rp 7,9 juta. Selain menyediakan tempat, CodeMargonda juga sering mengadakan event gratis atau berbayar seperti workshop dan diskusi. 3. COMMA | Jakarta COMMA (Collaboration Matters) mengaku sebagai co-working space pertama di kota Jakarta, dan didirikan oleh tujuh nama besar di dunia entrepreneur Indonesia seperti Rene Suhardono (career coach dan founder ImpactFactory), Yoris Sebastian (founder konsultan kreatif OMG), dan Dondi Hananto (founder wujudkanID) di bulan November 2012 lalu. COMMA ingin menumbuhkan lingkungan entrepreneur di Indonesia dengan memfasilitasi orang-orang dari berbagai latar belakang agar mereka bisa berinteraksi dan berkolaborasi. Tidak seperti co-working space lainnya, yang secara spesifik ditujukan untuk startup, technopreneur, atau developer, COMMA menerima orang dengan latar belakang yang berbeda yang tertarik dan ingin bergabung di industri teknologi. COMMA bisa menampung 40 orang, punya ruang rapat, dan bahkan punya lounge untuk bermain Playstation dan tenis meja. Tiap kursi atau tempatnya bisa digunakan dengan membayar Rp 50.000 per dua jam. Tapi jika Anda ingin tinggal lebih lama, Anda bisa mendaftar sebagai anggota dengan membayar Rp 3 juta per bulan. 4. Ciputra GEPI Incubator | Jakarta Ciputra GEPI Incubator (CGI) diprakarsai oleh Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI) dan perusahaan properti Ciputra. Space komunitas startup ini ingin menumbuhkan lingkungan entrepreneur di Indonesia dengan menyediakan space fisik di Jakarta. Tempat ini memiliki luas sebesar 520 meter persegi dan berfokus pada event, meetup, networking, dan pelatihan. Tim CGI berencana memiliki paling tidak satu event tiap minggunya dan akan melakukan yang terbaik untuk tetap gratis dan terbuka. 5. Freeware | Jakarta Freeware adalah co-working space gratis di Jakarta. Perusahaan VC/investor, Grupara, awal tahun ini bekerja sama dengan perusahaan energi Medco Energi untuk membantu entrepreneur yang masih berada dalam fase awal untuk mengembangkan perusahaannya dengan menyediakan co-working space yang nyaman dan pembentukan komunitas. Freeware tidak hanya terbatas untuk perusahaan teknologi, tapi segala bentuk bisnis Service Management Enterprise (SME) seperti fashion, jasa, dan media. Freeware juga mengadakan sesi sharing rutin yang bertujuan untuk membahas topik tertentu tiap minggunya, dan dibawakan oleh pembicara yang terkenal dari industri startup. Freeware sudah cukup penuh saat ini dengan 14 startup yang menggunakan layanannya di tahun ini. 6. HackerSpaceBDG | Bandung HackerSpaceBDG adalah co-working space di Bandung yang didirikan oleh Reza Prabowo dan Yohan Totting. Mereka ingin memfasilitasi startup, komunitas, atau individu; sebuah tempat bekerja dan berkolaborasi. Tempat ini menawarkan delapan space dengan akses internet secara gratis, tetapi jika ingin bekerja secara permanent, dapat mendonasikan uang sebesar Rp 500.000 per bulan. Tempat ini juga terkadang digunakan untuk event startup. 7. HackerSpaceYK | Yogyakarta HackerSpaceYK adalah co-working space di Yogyakarta yang didirikan oleh Reza Prabowo dan Yohan Totting. Seperti halnya HackerSpaceBDG, tempat ini memfasilitasi tim atau individu dari industri kreatif seperti startup, desainer, dan penulis. Tempat ini memiliki 12 space dan bisa digunakan dengan membayar Rp 300.000 per bulannya. Luas HackerSpaceYK adalah sekitar 30 meter persegi. 8. Jogja Digital Valley | Yogyakarta JDV (Jogja Digital Valley) adalah co-working space gratis kedua yang dibangun oleh Telkom, dan didirikan di kota Yogyakarta pada bulan Agustus lalu. Konsep dan layanan yang diberikan JDV sama dengan BDV, dan sama-sama bertujuan untuk mendorong pertumbuhan perusahaan milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Tempat ini memiliki luas 800 meter persegi, ruangan gadget, ruangan rapat, dan ruang inkubasi. Co-working space ini bisa menampung sampai 50 orang. Telkom menginvestasikan Rp 10 miliar selama tiga tahun ke depan untuk JDV. Seperti halnya BDV, untuk menggunakan tempat ini, Anda hanya perlumendaftar di situsnya. Setelah Bandung dan Yogyakarta, Telkom juga berencana membangun Digital Valley di kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan Bali. 9. Hubud | Bali Hubud adalah co-working space pertama di Ubud yang didirikan oleh tiga ekspatriat bernama Peter Wall, John Alderson, dan Steve Munroe. Tempat ini didesain dengan konsep tempat terbuka yang dikelilingi taman dan dilengkapi dengan fasilitas seperti internet yang cepat, printer, scanner, mesin foto copy, dan ruang seminar. Bagi yang ingin bekerja di Hubud, diwajibkan untuk mendaftar sebagai member dengan biaya yang berbeda-beda, seperti Rp 500.000 untuk 25 jam kerja per bulan atau Rp 2,5 juta untuk jam kerja tak terbatas selama satu bulan. Hubud memiliki operating hour selama 24 jam setiap harinya, sehingga member bisa datang kapan saja untuk bekerja. Co-working space ini juga sering mengadakan acara gratis seperti meetup atau diskusi dengan berkolaborasi dengan berbagai komunitas yang bisa diikuti oleh member. 10. Pusat Kreatif Bandung | Bandung Pusat Kreatif Bandung yang didirikan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI ini merupakan co-working space yang juga berperan sebagai pusat inkubasi. Tempat ini diresmikan pada bulan Mei lalu dan terbuka untuk umum, dengan syarat harus mendaftar sebagai member terlebih dahulu. Fasilitas yang ditawarkan antara lain ruang kerja, ruang seminar, 2 ruang meeting, internet, dan lab dari Intel. 11. Lineup Hub | Bali Lineup Hub merupakan sebuah co-working space yang terletak di Seminyak. Co-working space yang terbilang baru yakni dibuka sekitar bulan Mei tahun ini mempunyai dua lantai dengan berbagai fasilitas seperti wi-fi, ruang seminar, coffee brewer, dan PlayStation 4 yang bisa dimainkan di waktu senggang. Kisaran harga untuk member di Lineup Hub berbeda-beda, mulai dari Rp 1 juta per bulan untuk paket Basic (yakni hanya bisa mendapatkan akses 5 hari kerja dalam sebulan, serta diskon jika ingin menambah jumlah hari), hingga Rp 2,9 juta untuk paket Full-Time (mendapat akses tak terbatas selama sebulan, prioritas lebih menggunakan ruang seminar, menggunakan loker, dan lainnya). Bagi Anda yang tertarik mencoba, Anda juga bisa menggunakan paket harian yakni sebesar Rp 250.000 untuk satu hari. Lineup Hub beroperasi mulai dari jam 10 pagi hingga 1 malam dan buka pada hari Senin-Sabtu. 12. Startup Getaway | Bali Berbeda dari yang lainnya, Startup Gateway yang didirikan oleh Liv.it (dulunya Contenga), sebuah komunitas startup teknologi, tidak hanya menawarkan co-working space, tapi juga menawarkan konsep lain yakni co-living space. Tidak hanya bekerja, Anda juga bisa tinggal di Startup Gateway. Startup Gateway menyediakan enam power house (semacam villa) berbeda dengan berbagai fasilitas di dalamnya. Selain co-working space, Anda bisa menggunakan fasilitas lain seperti dapur, kolam renang, gazebo, kamar tidur, perpustakaan, cafe, dan fasilitas lainnya. Asiknya, semua kebutuhan harian Anda dipenuhi oleh Startup Getaway mulai dari makan hingga laundry. Keenam power house tersebut terletak berdekatan dalam satu lokasi yang dikelilingi oleh panorama hamparan padi di sawah yang asri dan terkoneksi dengan wi-fi yang stabil. (Baca juga: 7 startup menarik di Tech in Asia Meetup Bali) Pelanggan Startup Getaway biasanya datang dengan satu tim startup yang menyewa satu power house dalam jangka waktu tertentu. Namun, Anda juga bisa bekerja di sini secara perorangan dengan jangka waktu yang bisa Anda tentukan sendiri. Biaya sewa di Startup Getaway tergantung pada durasi waktu, seperti harian, mingguan, atau bulanan, serta tergantung pada jenis kamar tidur yang di sewa. Harga termurah di Startup Getaway dimulai dari USD 50 (atau sekitar Rp 590.000) per hari. 13. The Sanur Space | Bali The Sanur Space (TSS) adalah sebuah co-working space yang didirikan oleh PT EMIK yang merupakan cabang Emic Research di Indonesia, sebuah perusahaan riset dan konsultasi asal Belanda. TSS bertujuan untuk menyediakan co-working space yang fleksibel bagi para profesional lokal maupun internasional, serta mengadakan berbagai acara khususnya dalam bidang sosial. TSS menyediakan empat ruang bagi pelanggan, yakni main room, white room, dapur, serta ruang terbuka berupa taman. Main room biasanya digunakan untuk tempat bekerja yang dilengkapi dengan fasilitas seperti printer, scanner, mesin foto copy, dan white board. Sementara white room biasanya digunakan sebagai ruang untuk presentasi, seminar, ataupun rapat. Kisaran harga sewa di TSS yakni sekitar USD 15 (sekitar Rp 178.000) per hari. TSS beroperasi mulai dari jam 6 pagi hingga 10 malam dan buka setiap hari kecuali hari Minggu. 14. WAVE Bali | Bali WAVE merupakan sebuah co-working space yang didirikan oleh Ryuta Saito dan Noritaka Kobayashi pada Februari 2014. Mereka ingin memfasilitasi inovator, startup, komunitas, atau individu; sebuah tempat bekerja dan berkolaborasi. Co-working space yang terletak di Kuta ini menyediakan wi-fi, printer, scanner, mesin foto copy, serta air mineral gratis bagi para member. WAVE juga bisa dijadikan tempat untuk mengadakan berbagai acara. Di antara semua co-working space di daftar ini, WAVE termasuk yang paling murah. Member bisa memilih paket mingguan yakni sebesar Rp 150.000, paket 2 mingguan Rp 300.000, dan paket bulanan sebesar Rp 500.000. Bagi Anda yang hanya ingin mampir bekerja di WAVE sehari atau dua hari, Anda tetap bisa menggunakan fasilitas di WAVE dengan harga yang bisa dinegosiasikan. WAVE beroperasi mulai dari jam 10 pagi hingga 6 malam.

Baca juga: 14 co-working space keren di Indonesia http://id.techinasia.com/8-coworking-space-keren-di-indonesia/
Dunia startup Indonesia saat ini sedang mengalami pertumbuhan positif. Banyak inkubator dan co-working space yang muncul di berbagai tempat di kota besar, dan semuanya bertujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan startup. Beberapa tempat disediakan secara gratis dan beberapa lagi berbayar. Jika Anda mencari tempat yang bagus untuk bekerja, berinteraksi, berkolaborasi, belajar, dan mengembangkan startup Anda di Indonesia, berikut adalah sepuluh co-working space yang bisa jadi pilihan Anda: 1. Bandung Digital Valley | Bandung BDV (Bandung Digital Valley adalah co-working space gratis yang diluncurkan oleh Telkom di Bandung pada bulan Desember tahun 2011 lalu. Berlokasi di R&D center milik Telkom, tempat ini memiliki luas 1.200 meter persegi, dan Telkom mengijinkan orang-orang menggunakannya sebagai co-working space, ruangan gadget, ruangan rapat, dan ruangan inkubasi. BDV dibangun untuk mendukung dan memfasilitasi perusahaan atau produk milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Telkom mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi sebesar Rp 50 miliar di BDV untuk jangka waktu tiga tahun ke depan. Co-working space ini sendiri bisa menampung 100 orang. Untuk bisa menempati BDV, Anda hanya perlu mendaftarkan diri di situsnya. 2. CodeMargonda | Depok CodeMargonda adalah co-working space pertama di kota Depok dan didirikan oleh Tommy Herdiansyah dan Febrian Shandy Rifano. Tempat ini bertujuan untuk memfasilitasi interaksi dan kolaborasi antara startup lokal yang ada di wilayahnya. Tempat ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk 35 orang, dan juga memiliki ruang rapat, dan ruang diskusi. Tim atau individu yang non-profit bisa menggunakan tempat ini secara gratis. Tapi mereka yang mencari profit dari usahanya harus membayar. Biaya sewanya adalah Rp 15.000 per empat jam untuk member dan Rp 25.000 untuk non-member. Biaya sewa per bulannya sebesar Rp 660.000, dan biaya sewa per tahunnya sebesar Rp 7,9 juta. Selain menyediakan tempat, CodeMargonda juga sering mengadakan event gratis atau berbayar seperti workshop dan diskusi. 3. COMMA | Jakarta COMMA (Collaboration Matters) mengaku sebagai co-working space pertama di kota Jakarta, dan didirikan oleh tujuh nama besar di dunia entrepreneur Indonesia seperti Rene Suhardono (career coach dan founder ImpactFactory), Yoris Sebastian (founder konsultan kreatif OMG), dan Dondi Hananto (founder wujudkanID) di bulan November 2012 lalu. COMMA ingin menumbuhkan lingkungan entrepreneur di Indonesia dengan memfasilitasi orang-orang dari berbagai latar belakang agar mereka bisa berinteraksi dan berkolaborasi. Tidak seperti co-working space lainnya, yang secara spesifik ditujukan untuk startup, technopreneur, atau developer, COMMA menerima orang dengan latar belakang yang berbeda yang tertarik dan ingin bergabung di industri teknologi. COMMA bisa menampung 40 orang, punya ruang rapat, dan bahkan punya lounge untuk bermain Playstation dan tenis meja. Tiap kursi atau tempatnya bisa digunakan dengan membayar Rp 50.000 per dua jam. Tapi jika Anda ingin tinggal lebih lama, Anda bisa mendaftar sebagai anggota dengan membayar Rp 3 juta per bulan. 4. Ciputra GEPI Incubator | Jakarta Ciputra GEPI Incubator (CGI) diprakarsai oleh Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI) dan perusahaan properti Ciputra. Space komunitas startup ini ingin menumbuhkan lingkungan entrepreneur di Indonesia dengan menyediakan space fisik di Jakarta. Tempat ini memiliki luas sebesar 520 meter persegi dan berfokus pada event, meetup, networking, dan pelatihan. Tim CGI berencana memiliki paling tidak satu event tiap minggunya dan akan melakukan yang terbaik untuk tetap gratis dan terbuka. 5. Freeware | Jakarta Freeware adalah co-working space gratis di Jakarta. Perusahaan VC/investor, Grupara, awal tahun ini bekerja sama dengan perusahaan energi Medco Energi untuk membantu entrepreneur yang masih berada dalam fase awal untuk mengembangkan perusahaannya dengan menyediakan co-working space yang nyaman dan pembentukan komunitas. Freeware tidak hanya terbatas untuk perusahaan teknologi, tapi segala bentuk bisnis Service Management Enterprise (SME) seperti fashion, jasa, dan media. Freeware juga mengadakan sesi sharing rutin yang bertujuan untuk membahas topik tertentu tiap minggunya, dan dibawakan oleh pembicara yang terkenal dari industri startup. Freeware sudah cukup penuh saat ini dengan 14 startup yang menggunakan layanannya di tahun ini. 6. HackerSpaceBDG | Bandung HackerSpaceBDG adalah co-working space di Bandung yang didirikan oleh Reza Prabowo dan Yohan Totting. Mereka ingin memfasilitasi startup, komunitas, atau individu; sebuah tempat bekerja dan berkolaborasi. Tempat ini menawarkan delapan space dengan akses internet secara gratis, tetapi jika ingin bekerja secara permanent, dapat mendonasikan uang sebesar Rp 500.000 per bulan. Tempat ini juga terkadang digunakan untuk event startup. 7. HackerSpaceYK | Yogyakarta HackerSpaceYK adalah co-working space di Yogyakarta yang didirikan oleh Reza Prabowo dan Yohan Totting. Seperti halnya HackerSpaceBDG, tempat ini memfasilitasi tim atau individu dari industri kreatif seperti startup, desainer, dan penulis. Tempat ini memiliki 12 space dan bisa digunakan dengan membayar Rp 300.000 per bulannya. Luas HackerSpaceYK adalah sekitar 30 meter persegi. 8. Jogja Digital Valley | Yogyakarta JDV (Jogja Digital Valley) adalah co-working space gratis kedua yang dibangun oleh Telkom, dan didirikan di kota Yogyakarta pada bulan Agustus lalu. Konsep dan layanan yang diberikan JDV sama dengan BDV, dan sama-sama bertujuan untuk mendorong pertumbuhan perusahaan milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Tempat ini memiliki luas 800 meter persegi, ruangan gadget, ruangan rapat, dan ruang inkubasi. Co-working space ini bisa menampung sampai 50 orang. Telkom menginvestasikan Rp 10 miliar selama tiga tahun ke depan untuk JDV. Seperti halnya BDV, untuk menggunakan tempat ini, Anda hanya perlumendaftar di situsnya. Setelah Bandung dan Yogyakarta, Telkom juga berencana membangun Digital Valley di kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan Bali. 9. Hubud | Bali Hubud adalah co-working space pertama di Ubud yang didirikan oleh tiga ekspatriat bernama Peter Wall, John Alderson, dan Steve Munroe. Tempat ini didesain dengan konsep tempat terbuka yang dikelilingi taman dan dilengkapi dengan fasilitas seperti internet yang cepat, printer, scanner, mesin foto copy, dan ruang seminar. Bagi yang ingin bekerja di Hubud, diwajibkan untuk mendaftar sebagai member dengan biaya yang berbeda-beda, seperti Rp 500.000 untuk 25 jam kerja per bulan atau Rp 2,5 juta untuk jam kerja tak terbatas selama satu bulan. Hubud memiliki operating hour selama 24 jam setiap harinya, sehingga member bisa datang kapan saja untuk bekerja. Co-working space ini juga sering mengadakan acara gratis seperti meetup atau diskusi dengan berkolaborasi dengan berbagai komunitas yang bisa diikuti oleh member. 10. Pusat Kreatif Bandung | Bandung Pusat Kreatif Bandung yang didirikan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI ini merupakan co-working space yang juga berperan sebagai pusat inkubasi. Tempat ini diresmikan pada bulan Mei lalu dan terbuka untuk umum, dengan syarat harus mendaftar sebagai member terlebih dahulu. Fasilitas yang ditawarkan antara lain ruang kerja, ruang seminar, 2 ruang meeting, internet, dan lab dari Intel. 11. Lineup Hub | Bali Lineup Hub merupakan sebuah co-working space yang terletak di Seminyak. Co-working space yang terbilang baru yakni dibuka sekitar bulan Mei tahun ini mempunyai dua lantai dengan berbagai fasilitas seperti wi-fi, ruang seminar, coffee brewer, dan PlayStation 4 yang bisa dimainkan di waktu senggang. Kisaran harga untuk member di Lineup Hub berbeda-beda, mulai dari Rp 1 juta per bulan untuk paket Basic (yakni hanya bisa mendapatkan akses 5 hari kerja dalam sebulan, serta diskon jika ingin menambah jumlah hari), hingga Rp 2,9 juta untuk paket Full-Time (mendapat akses tak terbatas selama sebulan, prioritas lebih menggunakan ruang seminar, menggunakan loker, dan lainnya). Bagi Anda yang tertarik mencoba, Anda juga bisa menggunakan paket harian yakni sebesar Rp 250.000 untuk satu hari. Lineup Hub beroperasi mulai dari jam 10 pagi hingga 1 malam dan buka pada hari Senin-Sabtu. 12. Startup Getaway | Bali Berbeda dari yang lainnya, Startup Gateway yang didirikan oleh Liv.it (dulunya Contenga), sebuah komunitas startup teknologi, tidak hanya menawarkan co-working space, tapi juga menawarkan konsep lain yakni co-living space. Tidak hanya bekerja, Anda juga bisa tinggal di Startup Gateway. Startup Gateway menyediakan enam power house (semacam villa) berbeda dengan berbagai fasilitas di dalamnya. Selain co-working space, Anda bisa menggunakan fasilitas lain seperti dapur, kolam renang, gazebo, kamar tidur, perpustakaan, cafe, dan fasilitas lainnya. Asiknya, semua kebutuhan harian Anda dipenuhi oleh Startup Getaway mulai dari makan hingga laundry. Keenam power house tersebut terletak berdekatan dalam satu lokasi yang dikelilingi oleh panorama hamparan padi di sawah yang asri dan terkoneksi dengan wi-fi yang stabil. (Baca juga: 7 startup menarik di Tech in Asia Meetup Bali) Pelanggan Startup Getaway biasanya datang dengan satu tim startup yang menyewa satu power house dalam jangka waktu tertentu. Namun, Anda juga bisa bekerja di sini secara perorangan dengan jangka waktu yang bisa Anda tentukan sendiri. Biaya sewa di Startup Getaway tergantung pada durasi waktu, seperti harian, mingguan, atau bulanan, serta tergantung pada jenis kamar tidur yang di sewa. Harga termurah di Startup Getaway dimulai dari USD 50 (atau sekitar Rp 590.000) per hari. 13. The Sanur Space | Bali The Sanur Space (TSS) adalah sebuah co-working space yang didirikan oleh PT EMIK yang merupakan cabang Emic Research di Indonesia, sebuah perusahaan riset dan konsultasi asal Belanda. TSS bertujuan untuk menyediakan co-working space yang fleksibel bagi para profesional lokal maupun internasional, serta mengadakan berbagai acara khususnya dalam bidang sosial. TSS menyediakan empat ruang bagi pelanggan, yakni main room, white room, dapur, serta ruang terbuka berupa taman. Main room biasanya digunakan untuk tempat bekerja yang dilengkapi dengan fasilitas seperti printer, scanner, mesin foto copy, dan white board. Sementara white room biasanya digunakan sebagai ruang untuk presentasi, seminar, ataupun rapat. Kisaran harga sewa di TSS yakni sekitar USD 15 (sekitar Rp 178.000) per hari. TSS beroperasi mulai dari jam 6 pagi hingga 10 malam dan buka setiap hari kecuali hari Minggu. 14. WAVE Bali | Bali WAVE merupakan sebuah co-working space yang didirikan oleh Ryuta Saito dan Noritaka Kobayashi pada Februari 2014. Mereka ingin memfasilitasi inovator, startup, komunitas, atau individu; sebuah tempat bekerja dan berkolaborasi. Co-working space yang terletak di Kuta ini menyediakan wi-fi, printer, scanner, mesin foto copy, serta air mineral gratis bagi para member. WAVE juga bisa dijadikan tempat untuk mengadakan berbagai acara. Di antara semua co-working space di daftar ini, WAVE termasuk yang paling murah. Member bisa memilih paket mingguan yakni sebesar Rp 150.000, paket 2 mingguan Rp 300.000, dan paket bulanan sebesar Rp 500.000. Bagi Anda yang hanya ingin mampir bekerja di WAVE sehari atau dua hari, Anda tetap bisa menggunakan fasilitas di WAVE dengan harga yang bisa dinegosiasikan. WAVE beroperasi mulai dari jam 10 pagi hingga 6 malam.

Baca juga: 14 co-working space keren di Indonesia http://id.techinasia.com/8-coworking-space-keren-di-indonesia/
 startup Indonesia saat ini sedang mengalami pertumbuhan positif. Banyak inkubator dan co-working space yang muncul di berbagai tempat di kota besar, dan semuanya bertujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan startup. Beberapa tempat disediakan secara gratis dan beberapa lagi berbayar. Jika Anda mencari tempat yang bagus untuk bekerja, berinteraksi, berkolaborasi, belajar, dan mengembangkan startup Anda di Indonesia, berikut adalah sepuluh co-working space yang bisa jadi pilihan Anda: 1. Bandung Digital Valley | Bandung BDV (Bandung Digital Valley adalah co-working space gratis yang diluncurkan oleh Telkom di Bandung pada bulan Desember tahun 2011 lalu. Berlokasi di R&D center milik Telkom, tempat ini memiliki luas 1.200 meter persegi, dan Telkom mengijinkan orang-orang menggunakannya sebagai co-working space, ruangan gadget, ruangan rapat, dan ruangan inkubasi. BDV dibangun untuk mendukung dan memfasilitasi perusahaan atau produk milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Telkom mengatakan bahwa mereka akan berinvestasi sebesar Rp 50 miliar di BDV untuk jangka waktu tiga tahun ke depan. Co-working space ini sendiri bisa menampung 100 orang. Untuk bisa menempati BDV, Anda hanya perlu mendaftarkan diri di situsnya. 2. CodeMargonda | Depok CodeMargonda adalah co-working space pertama di kota Depok dan didirikan oleh Tommy Herdiansyah dan Febrian Shandy Rifano. Tempat ini bertujuan untuk memfasilitasi interaksi dan kolaborasi antara startup lokal yang ada di wilayahnya. Tempat ini juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas untuk 35 orang, dan juga memiliki ruang rapat, dan ruang diskusi. Tim atau individu yang non-profit bisa menggunakan tempat ini secara gratis. Tapi mereka yang mencari profit dari usahanya harus membayar. Biaya sewanya adalah Rp 15.000 per empat jam untuk member dan Rp 25.000 untuk non-member. Biaya sewa per bulannya sebesar Rp 660.000, dan biaya sewa per tahunnya sebesar Rp 7,9 juta. Selain menyediakan tempat, CodeMargonda juga sering mengadakan event gratis atau berbayar seperti workshop dan diskusi. 3. COMMA | Jakarta COMMA (Collaboration Matters) mengaku sebagai co-working space pertama di kota Jakarta, dan didirikan oleh tujuh nama besar di dunia entrepreneur Indonesia seperti Rene Suhardono (career coach dan founder ImpactFactory), Yoris Sebastian (founder konsultan kreatif OMG), dan Dondi Hananto (founder wujudkanID) di bulan November 2012 lalu. COMMA ingin menumbuhkan lingkungan entrepreneur di Indonesia dengan memfasilitasi orang-orang dari berbagai latar belakang agar mereka bisa berinteraksi dan berkolaborasi. Tidak seperti co-working space lainnya, yang secara spesifik ditujukan untuk startup, technopreneur, atau developer, COMMA menerima orang dengan latar belakang yang berbeda yang tertarik dan ingin bergabung di industri teknologi. COMMA bisa menampung 40 orang, punya ruang rapat, dan bahkan punya lounge untuk bermain Playstation dan tenis meja. Tiap kursi atau tempatnya bisa digunakan dengan membayar Rp 50.000 per dua jam. Tapi jika Anda ingin tinggal lebih lama, Anda bisa mendaftar sebagai anggota dengan membayar Rp 3 juta per bulan. 4. Ciputra GEPI Incubator | Jakarta Ciputra GEPI Incubator (CGI) diprakarsai oleh Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI) dan perusahaan properti Ciputra. Space komunitas startup ini ingin menumbuhkan lingkungan entrepreneur di Indonesia dengan menyediakan space fisik di Jakarta. Tempat ini memiliki luas sebesar 520 meter persegi dan berfokus pada event, meetup, networking, dan pelatihan. Tim CGI berencana memiliki paling tidak satu event tiap minggunya dan akan melakukan yang terbaik untuk tetap gratis dan terbuka. 5. Freeware | Jakarta Freeware adalah co-working space gratis di Jakarta. Perusahaan VC/investor, Grupara, awal tahun ini bekerja sama dengan perusahaan energi Medco Energi untuk membantu entrepreneur yang masih berada dalam fase awal untuk mengembangkan perusahaannya dengan menyediakan co-working space yang nyaman dan pembentukan komunitas. Freeware tidak hanya terbatas untuk perusahaan teknologi, tapi segala bentuk bisnis Service Management Enterprise (SME) seperti fashion, jasa, dan media. Freeware juga mengadakan sesi sharing rutin yang bertujuan untuk membahas topik tertentu tiap minggunya, dan dibawakan oleh pembicara yang terkenal dari industri startup. Freeware sudah cukup penuh saat ini dengan 14 startup yang menggunakan layanannya di tahun ini. 6. HackerSpaceBDG | Bandung HackerSpaceBDG adalah co-working space di Bandung yang didirikan oleh Reza Prabowo dan Yohan Totting. Mereka ingin memfasilitasi startup, komunitas, atau individu; sebuah tempat bekerja dan berkolaborasi. Tempat ini menawarkan delapan space dengan akses internet secara gratis, tetapi jika ingin bekerja secara permanent, dapat mendonasikan uang sebesar Rp 500.000 per bulan. Tempat ini juga terkadang digunakan untuk event startup. 7. HackerSpaceYK | Yogyakarta HackerSpaceYK adalah co-working space di Yogyakarta yang didirikan oleh Reza Prabowo dan Yohan Totting. Seperti halnya HackerSpaceBDG, tempat ini memfasilitasi tim atau individu dari industri kreatif seperti startup, desainer, dan penulis. Tempat ini memiliki 12 space dan bisa digunakan dengan membayar Rp 300.000 per bulannya. Luas HackerSpaceYK adalah sekitar 30 meter persegi. 8. Jogja Digital Valley | Yogyakarta JDV (Jogja Digital Valley) adalah co-working space gratis kedua yang dibangun oleh Telkom, dan didirikan di kota Yogyakarta pada bulan Agustus lalu. Konsep dan layanan yang diberikan JDV sama dengan BDV, dan sama-sama bertujuan untuk mendorong pertumbuhan perusahaan milik technopreneur atau developer dan menjembatani mereka dengan target pasarnya. Tempat ini memiliki luas 800 meter persegi, ruangan gadget, ruangan rapat, dan ruang inkubasi. Co-working space ini bisa menampung sampai 50 orang. Telkom menginvestasikan Rp 10 miliar selama tiga tahun ke depan untuk JDV. Seperti halnya BDV, untuk menggunakan tempat ini, Anda hanya perlumendaftar di situsnya. Setelah Bandung dan Yogyakarta, Telkom juga berencana membangun Digital Valley di kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, dan Bali. 9. Hubud | Bali Hubud adalah co-working space pertama di Ubud yang didirikan oleh tiga ekspatriat bernama Peter Wall, John Alderson, dan Steve Munroe. Tempat ini didesain dengan konsep tempat terbuka yang dikelilingi taman dan dilengkapi dengan fasilitas seperti internet yang cepat, printer, scanner, mesin foto copy, dan ruang seminar. Bagi yang ingin bekerja di Hubud, diwajibkan untuk mendaftar sebagai member dengan biaya yang berbeda-beda, seperti Rp 500.000 untuk 25 jam kerja per bulan atau Rp 2,5 juta untuk jam kerja tak terbatas selama satu bulan. Hubud memiliki operating hour selama 24 jam setiap harinya, sehingga member bisa datang kapan saja untuk bekerja. Co-working space ini juga sering mengadakan acara gratis seperti meetup atau diskusi dengan berkolaborasi dengan berbagai komunitas yang bisa diikuti oleh member. 10. Pusat Kreatif Bandung | Bandung Pusat Kreatif Bandung yang didirikan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI ini merupakan co-working space yang juga berperan sebagai pusat inkubasi. Tempat ini diresmikan pada bulan Mei lalu dan terbuka untuk umum, dengan syarat harus mendaftar sebagai member terlebih dahulu. Fasilitas yang ditawarkan antara lain ruang kerja, ruang seminar, 2 ruang meeting, internet, dan lab dari Intel. 11. Lineup Hub | Bali Lineup Hub merupakan sebuah co-working space yang terletak di Seminyak. Co-working space yang terbilang baru yakni dibuka sekitar bulan Mei tahun ini mempunyai dua lantai dengan berbagai fasilitas seperti wi-fi, ruang seminar, coffee brewer, dan PlayStation 4 yang bisa dimainkan di waktu senggang. Kisaran harga untuk member di Lineup Hub berbeda-beda, mulai dari Rp 1 juta per bulan untuk paket Basic (yakni hanya bisa mendapatkan akses 5 hari kerja dalam sebulan, serta diskon jika ingin menambah jumlah hari), hingga Rp 2,9 juta untuk paket Full-Time (mendapat akses tak terbatas selama sebulan, prioritas lebih menggunakan ruang seminar, menggunakan loker, dan lainnya). Bagi Anda yang tertarik mencoba, Anda juga bisa menggunakan paket harian yakni sebesar Rp 250.000 untuk satu hari. Lineup Hub beroperasi mulai dari jam 10 pagi hingga 1 malam dan buka pada hari Senin-Sabtu. 12. Startup Getaway | Bali Berbeda dari yang lainnya, Startup Gateway yang didirikan oleh Liv.it (dulunya Contenga), sebuah komunitas startup teknologi, tidak hanya menawarkan co-working space, tapi juga menawarkan konsep lain yakni co-living space. Tidak hanya bekerja, Anda juga bisa tinggal di Startup Gateway. Startup Gateway menyediakan enam power house (semacam villa) berbeda dengan berbagai fasilitas di dalamnya. Selain co-working space, Anda bisa menggunakan fasilitas lain seperti dapur, kolam renang, gazebo, kamar tidur, perpustakaan, cafe, dan fasilitas lainnya. Asiknya, semua kebutuhan harian Anda dipenuhi oleh Startup Getaway mulai dari makan hingga laundry. Keenam power house tersebut terletak berdekatan dalam satu lokasi yang dikelilingi oleh panorama hamparan padi di sawah yang asri dan terkoneksi dengan wi-fi yang stabil. (Baca juga: 7 startup menarik di Tech in Asia Meetup Bali) Pelanggan Startup Getaway biasanya datang dengan satu tim startup yang menyewa satu power house dalam jangka waktu tertentu. Namun, Anda juga bisa bekerja di sini secara perorangan dengan jangka waktu yang bisa Anda tentukan sendiri. Biaya sewa di Startup Getaway tergantung pada durasi waktu, seperti harian, mingguan, atau bulanan, serta tergantung pada jenis kamar tidur yang di sewa. Harga termurah di Startup Getaway dimulai dari USD 50 (atau sekitar Rp 590.000) per hari. 13. The Sanur Space | Bali The Sanur Space (TSS) adalah sebuah co-working space yang didirikan oleh PT EMIK yang merupakan cabang Emic Research di Indonesia, sebuah perusahaan riset dan konsultasi asal Belanda. TSS bertujuan untuk menyediakan co-working space yang fleksibel bagi para profesional lokal maupun internasional, serta mengadakan berbagai acara khususnya dalam bidang sosial. TSS menyediakan empat ruang bagi pelanggan, yakni main room, white room, dapur, serta ruang terbuka berupa taman. Main room biasanya digunakan untuk tempat bekerja yang dilengkapi dengan fasilitas seperti printer, scanner, mesin foto copy, dan white board. Sementara white room biasanya digunakan sebagai ruang untuk presentasi, seminar, ataupun rapat. Kisaran harga sewa di TSS yakni sekitar USD 15 (sekitar Rp 178.000) per hari. TSS beroperasi mulai dari jam 6 pagi hingga 10 malam dan buka setiap hari kecuali hari Minggu. 14. WAVE Bali | Bali WAVE merupakan sebuah co-working space yang didirikan oleh Ryuta Saito dan Noritaka Kobayashi pada Februari 2014. Mereka ingin memfasilitasi inovator, startup, komunitas, atau individu; sebuah tempat bekerja dan berkolaborasi. Co-working space yang terletak di Kuta ini menyediakan wi-fi, printer, scanner, mesin foto copy, serta air mineral gratis bagi para member. WAVE juga bisa dijadikan tempat untuk mengadakan berbagai acara. Di antara semua co-working space di daftar ini, WAVE termasuk yang paling murah. Member bisa memilih paket mingguan yakni sebesar Rp 150.000, paket 2 mingguan Rp 300.000, dan paket bulanan sebesar Rp 500.000. Bagi Anda yang hanya ingin mampir bekerja di WAVE sehari atau dua hari, Anda tetap bisa menggunakan fasilitas di WAVE dengan harga yang bisa dinegosiasikan. WAVE beroperasi mulai dari jam 10 pagi hingga 6 malam.

Baca juga: 14 co-working space keren di Indonesia http://id.techinasia.com/8-coworking-space-keren-di-indonesia/